Total Tayangan Halaman
Senin, 04 Juli 2016
Sabtu, 25 Juni 2016
Keterkaitan Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti dengan Buku Siswa Bahasa Sunda
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) SEBELAS APRIL SUMEDANG
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH, TERAKREDITASI BAN-PT
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
MATEMATIKA (PENMAT) TERAKREDITASI BAN-PT
PROGRAM STUDI JASMANI, KESEHATAN
DAN REKREASI (PJKR), TERAKREDITASI BAN-PT
PENDIDIKAN GURU PAUD,
TERAKREDITASI BAN-PT
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH
DASAR, TERAKREDITASI BAN-PT
stkip11_april@yahoo.co.id
Kampus : Jalan Aggrek Situ No.19
Tlp. (0261) 202911 Fax. (0261) 210223 SUMEDANG
|
Nama
|
:
|
Nolit Triyanto
|
|
NIM
|
:
|
-
|
|
Mata Kuliah
|
:
|
Bahasa Sunda
|
|
Program Studi
|
:
|
S1/PGSD
|
|
Dosen
|
:
|
Hj. Odas, SH., M. M. Pd
|
Analisis Keterkaitan Kompetensi Dasar dan Kompetensi
Inti dengan Buku Siswa Bahasa Sunda.
Kompetensi
Dasar dirumuskan untuk mencapai kompetensi itni. Rumusan Kompetensi dasar
dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal,
serta ciri dari suatu mata pelajaran. Kompetensi Dasar dibagi menjadi empat
kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti sebagai berikut :
1.
Kelompok 1 :
kelompok kompetensi dasar sikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI – 1.
2.
Kelompok 2 : kelompok
kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI – 2.
3.
Kelompok 3 :
kelompok kompetensi dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI – 3.
4.
Kelompok 4 :
kelompok kompetensi dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI – 4.
Kurikulum Muatan Lokal Mata Pelajaran Bahasa Sunda
A.
Rasional
Sejalan
dengan keluarnya Kurikulum 2013 terdapat 3 jenis kurikulum, yakni Kurikulum Tingkat
Nasional, Kurikulum Tingkat Daerah, dan Kurikulum Tingkat Sekolah. Kurikulum
Tingkat Nasional disusun dan diberlakukan secara nasional. Kurikulum Tingkat
Daerah disusun dan diberlakukan di daerah berdasarkan Kurikulum Tingkat
Nasional sesuai dengan kebijakan daerah masing-masing. Sementara Kurikulum
Tingkat Sekolah disusun dan diberlakukan pada setiap jenjang sekolah.
Dalam
rangka memenuhi Kurikulum Tingkat Daerah, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
menyusun Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KIKD) Mata Pelajaran Bahasa
Sunda. Selain disesuaikan dan didasarkan pada Surat Edaran Kepala Dinas
Provinsi Jawa Barat Nomor 423/2372/Set-disdik tertanggal 26 Maret 2013 tentang
Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Daerah pada jenjang SD/MI, SMP/MTs,
SMA/SMK/MA.
Di
samping itu, penyusunan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KIKD) Mata
Pelajaran Bahasa Sunda didasari pula oleh Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat
No. 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah, yang
menetapkan bahasa daerah, antara lain, bahasa Sunda, diajarkan pada pendidikan
dasar di Jawa barat. Kebijakan tersebut sejalan denan jiwa UU No. 22/1999
tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, yang bersumber dari UUD 1945 yang menyangkut Pendidikan dan
Kebudayaan. Sejalan pula dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Bab III Pasal 7 ayat 3-8,
yang menyatakan bahwa dari SD/MI/SDLB, SMP/MTs./SMPLB, SMA/MAN/SMALB, dan
SMK/MAK diberikan pengajaran muatan lokal yang relevan dan Rekomendasi UNESCO
tahun 1999 tentang “Pemeliharaan bahasa-bahasa ibu di dunia”.
Hal
di atas sejalan pula dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 67, 68, 69 dan 70 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar
dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah SD/MI, SMP/MTs,
SMA/SMK/MA, diantaranya menyatakan bahwa : Bahasa Daerah sebagai muatan lokal
dapat secara terpisah apabila daerah merasa perlu untuk memisahkannya. Satuan
pendidikan dapat menambah jam pelajaran per minggu dengan kebutuhan satuan
pendidikan tersebut.
Bahasa
Sunda berkedudukan sebagai bahasa daerah, yang juga merupakan bahasa ibu bagi
sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Bahasa Sunda juga menjadi bahasa
pengantar pembelajaran di kelas-kelas awal SD/MI. melalui pembelajaran bahasa
Sunda diperkenalkan kearifan lokal sebagai landasan etnopedagogis.
Berdasarkan
kenyataan tersebut, bahasa Sunda sebagai salah satu khasanah dalam kebhineka
tunggal ikaan bahasa dan budaya Nusantara akan menjadi landasan bagi pendidikan
karakter dan moral bangsa. Oleh karena itu, bahasa Sunda harus diperkenalkan di
Taman Kanak-kanak (TK)/Raudhatul Athfal (RA) dan disekolah- sekolah mulai dari
SD/MI, SMP/MTs, sampai SMA/SMK/MA. Untuk kepentingan itu, perlu disusun
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar sesuai dengan satuan pendidikan tersebut.
Pembelajaran
Bahasa Sunda diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya dan budaya
sunda, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat
sunda, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang
ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa sunda diarahkan untuk meningkatkan
kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa sunda dengan baik dan
benar, secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap budaya
dan hasil karya sastra bahasa Sunda.
Kompetensi
inti mata pelajaran bahasa Sunda yang memiliki kesamaan dengan kompetensi inti mata
pelajaran lainnya merupakan kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan
penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap
bahasa dan sastra Sunda. Kompetensi Inti ini menjadi dasar bagi peserta didik
untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, dan nasional. Secara
substansial terdapat empat Kompetensi Inti yang sejalan dengan pembentukan
kualitas insan yang unggul, yakni (1) Sikap keagamaan (beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa) untuk menghasilkan manusia yang pengkuh agamana
(spiritual quotient), (2) Sikap kemasyarakatan (berakhlak mulia) untuk
menghasilkan manusia yang jembar budayana (emotional quotient), (3) Menguasai
pengetahuan, teknologi, dan seni (berilmu dan cakap) untuk menghasilkan manusia
yang luhung elmuna (intellectual quotient), dan (4) memiliki keterampilan
(kreatif dan mandiri) untuk menghasilkan manusia yang rancage gawena ( actional
quotient).
Keempat
Kompetensi Inti tersebut merupakan pengejawantahan dari tujuan pendidikan
Nasional (Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal
3), yakni “untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab”.
Dengan
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa Sunda ini, selaras
dengan alasan pengembangan kurikulum 2013, diharapkan peserta didik memiliki:
1.
Kemampuan
berkomunikasi;
2.
Kemampuan
berpikir jernih dan kritis;
3.
Kemampuan
mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan;
4.
Kemampuan
menjadi warga negara yang bertanggung jawab;
5.
Kemampuan
mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda;
6.
Kemampuan hidup
masyarakat yang mengglobal;
7.
Minat yang luas
dalam kehidupan;
8.
Kesiapan untuk
bekerja;
9.
Kecerdasan
sesuai dengan bakat/minatnya; dan
10. Rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
B.
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa Sunda
1.
Pengertian
Kompetensi
Inti dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Bahasa Sunda adalah program untuk
mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap
bahasa dan Sastra Sunda.
2.
Fungsi
Standar
Kompetensi dan kompetensi dasar sebagai fungsi acuan bagi guru-guru di sekolah
dalam menyusun kurikulum mata pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda sehingga
segi-segi pengembangan pengetahuan, keterampilan, serta sikap berbahasa dan
bersastra Sunda dapat terprogram secara terpadu.
Standar
Kompetensi dan kompetensi dasar ini disusun dengan pertimbangan kedudukan
bahasa Sunda sebagai Bahasa Daerah dan Sastra Sunda sebagai sastra Nusantara.
Pertimbangan itu berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran Bahasa Sunda sebagai
(1) Sarana pembinaan sosial budaya regional Jawa Barat, (2) Sarana peningkatan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam rangka pelesitarian dan pengembangan
budaya, (3) Sarana peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk
meraih dan mengembangkan ilmu ppengetahuan, teknologi, dan seni, (4) Sarana
pembakuan dan penyebarluasan pemakaian bahasa Sunda untuk berbagai keperluan,
(5) Sarana pengembangan penalaran, serta (5) Sarana pemahamananeka ragam budaya
daerah (Sunda).
Pertimbangan
itu berkonsekuensi pula pada tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Sunda yang
secara umum agar murid mencapai tujuan-tujuan berikut :
1)
Murid beroleh
pengalaman berbahasa dan bersastra Sunda.
2)
Murid
menghargai dan membanggakan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah Jawa Barat, yang
juga merupakan bahasa ibu bagi sebagian besar masyarakatnya.
3)
Murid memahami
bahasa Sunda dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta mampu menggunakan
secara tepat dan kreatif untuk berbagai konteks (tujuan, keperluan, dan keadaan).
4)
Murid mampu
menggunakan bahasa Sunda untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan
emosional dan kematangan social.
5)
Murid memiliki
kemampuan dan kedisiplinan dalam berbahasa Sunda (berbicara, menulis, dan
berpikir).
6)
Murid mampu
menikmati dan memanfaatkan karya sastra Sunda untuk meningkatkan pengetahuan
dan kemampuan berbahasa Sunda, mengembangkan kepribadian dan memperluas wawasan
kehidupan.
7)
Murid
menghargai dan membanggakan sastra Sunda sebagai khasanah budaya dan
intelektual manusia Sunda.
KESIMPULAN
Keterkaitan antara Kompetensi Dasar dan Kompetensi
Inti dengan Buku Bahasa Sunda Siswa.
1. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar sebagai fungsi acuan bagi
guru-guru di sekolah dalam menyusun kurikulum mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Sunda sehingga segi-segi pengembangan pengetahuan, keterampilan, serta sikap
berbahasa dan bersastra Sunda dapat terprogram secara terpadu.
2. Memiliki tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Sunda yang secara
umum agar murid mencapai tujuan-tujuan berikut :
1)
Murid beroleh
pengalaman berbahasa dan bersastra Sunda.
2)
Murid
menghargai dan membanggakan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah Jawa Barat, yang
juga merupakan bahasa ibu bagi sebagian besar masyarakatnya.
3)
Murid memahami
bahasa Sunda dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta mampu menggunakan
secara tepat dan kreatif untuk berbagai konteks (tujuan, keperluan, dan
keadaan).
4)
Murid mampu
menggunakan bahasa Sunda untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan
emosional dan kematangan social.
5)
Murid memiliki
kemampuan dan kedisiplinan dalam berbahasa Sunda (berbicara, menulis, dan
berpikir).
6)
Murid mampu
menikmati dan memanfaatkan karya sastra Sunda untuk meningkatkan pengetahuan
dan kemampuan berbahasa Sunda, mengembangkan kepribadian dan memperluas wawasan
kehidupan.
7)
Murid
menghargai dan membanggakan sastra Sunda sebagai khasanah budaya dan
intelektual manusia Sunda.
3. Kompetensi Dasar yang di kelompokkan sesuai dengan kompetensi inti,
yakni :
Ø Kelompok KD Sikap Spiritual yang menjabarkan KI – 1 : Sikap
keagamaan (beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa) untuk menghasilkan
manusia yang pengkuh agamana (spiritual quotient).
Ø Kelompok KD Sikap Sosial yang menjabarkan KI – 2 : Sikap
kemasyarakatan (berakhlak mulia) untuk menghasilkan manusia yang jembar
budayana (emotional quotient).
Ø Kelompok KD Pengetahuan yang menjabarkan KI – 3 : Menguasai
pengetahuan, teknologi, dan seni (berilmu dan cakap) untuk menghasilkan manusia
yang luhung elmuna (intellectual quotient).
Ø Kelompok KD Keterampilan yang menjabarkan KI – 4 : Memiliki
keterampilan (kreatif dan mandiri) untuk menghasilkan manusia yang rancage
gawena ( actional quotient).
Senin, 30 Mei 2016
Membaca Nyaring dan Membaca Dalam Hati
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) SEBELAS APRIL SUMEDANG
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH, TERAKREDITASI BAN-PT
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
MATEMATIKA (PENMAT) TERAKREDITASI BAN-PT
PROGRAM STUDI JASMANI, KESEHATAN
DAN REKREASI (PJKR), TERAKREDITASI BAN-PT
PENDIDIKAN GURU PAUD,
TERAKREDITASI BAN-PT
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH
DASAR, TERAKREDITASI BAN-PT
stkip11_april@yahoo.co.id
Kampus : Jalan Aggrek Situ No.19
Tlp. (0261) 202911 Fax. (0261) 210223 SUMEDANG
|
Nama
|
:
|
Nolit Triyanto
|
|
NIM
|
:
|
-
|
|
Mata Kuliah
|
:
|
Bahasa dan Sastra Bahasa Indonesia
|
|
Program Studi
|
:
|
S1/PGSD
|
|
Dosen
|
:
|
|
MENGANALISIS
MEMBACA NYARING dan MEMBACA DALAM HATI
BAB I
A. Hakikat Membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta
dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh
penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis (Hodgson dalam Tarigan 1979:7).
Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal,
tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas
visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif (Crawley dan Mountain dalam
Rahim 2007:2).
B. Tujuan Membaca
Tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh
informasi dari sumber tertulis. Informasi ini diperoleh melalui proses
pemaknaan terhadap bentuk-bentuk yang ditampilkan. Secara lebih khusus membaca
sebagai suatu ketrampilan bertujuan untuk mengenali aksara dan tanda-tanda
baca, mengenali hubungan antara aksara dan tanda baca dengan unsur linguistik
yang formal, serta mengenali hubungan antara bentuk dengan makna
atau meaning (Broughton et al dalam Sue 2004:15).
C. Jenis-jenis Membaca
1. Membaca Nyaring
Membaca nyaring adalah kegiatan membaca
dengan menyuarakan tulisan yang dibacanya dengan ucapan dan intonasi yang tepat
agar pendengar dan pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh
penulis, baik yang berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis.
Ketrampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, diantaranya adalah :
1. menggunakan ucapan yang tepat,
2. menggunakan frase yang tepat,
3. menggunakan intonasi suara yang wajar,
4. dalam posisi sikap yang baik,
5. menguasai tanda-tanda baca,
6. membaca dengan terang dan jelas,
7. membaca dengan penuh perasaan, ekspresif,
8. membaca dengan tidak terbata-bata,
9. mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya,
10. kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya,
11. membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan,
12. membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri.
Ketrampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, diantaranya adalah :
1. menggunakan ucapan yang tepat,
2. menggunakan frase yang tepat,
3. menggunakan intonasi suara yang wajar,
4. dalam posisi sikap yang baik,
5. menguasai tanda-tanda baca,
6. membaca dengan terang dan jelas,
7. membaca dengan penuh perasaan, ekspresif,
8. membaca dengan tidak terbata-bata,
9. mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya,
10. kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya,
11. membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan,
12. membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri.
2. Membaca Dalam Hati
Membaca dalam hati adalah kegiatan membaca
yang dilakukan dengan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibacanya.
Ketrampilan yang dituntut dalam membaca dalam hati antara lain sebagai berikut:
1. membaca tanpa bersuara, tanpa bibir bergerak, tanpa ada desis apapun,
2. membaca tanpa ada gerakan-gerakan kepala,
3. membaca lebih cepat dibandingkan dengan membaca nyaring,
4. tanpa menggunakan jari atau alat lain sebagai penunjuk,
5. mengerti dan memahami bahan bacaan,
6. dituntut kecepatan mata dalam membaca,
7. membaca dengan pemahaman yang baik,
8. dapat menyesuaikan kecepatan dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bacaan.
Ketrampilan yang dituntut dalam membaca dalam hati antara lain sebagai berikut:
1. membaca tanpa bersuara, tanpa bibir bergerak, tanpa ada desis apapun,
2. membaca tanpa ada gerakan-gerakan kepala,
3. membaca lebih cepat dibandingkan dengan membaca nyaring,
4. tanpa menggunakan jari atau alat lain sebagai penunjuk,
5. mengerti dan memahami bahan bacaan,
6. dituntut kecepatan mata dalam membaca,
7. membaca dengan pemahaman yang baik,
8. dapat menyesuaikan kecepatan dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bacaan.
Ø Membaca dalam Hati dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu :
(I)
Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif adalah membaca
secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya. Membaca ekstensif meliputi :
a.
Membaca Survai (Survey Reading)
Membaca Survai adalah kegiatan membaca untuk
mengetahui secara sekilas terhadap bahan bacaan yang akan dibaca lebih
mendalam. Kegiatan membaca survai merupakan pendahuluan dalam membaca
ekstensif.
Yang dilakukan seseorang ketika membaca
survai adalah sebagai berikut :
·
Memeriksa judul bacaan/ buku, kata pengantar, daftar isi dan
melihat abstrak (jika ada)
·
Memeriksa bagian terakhir dari isi (kesimpulan) jika ada.
·
Memeriksa indeks dan apendiks (jika ada)
b.
Membaca Sekilas
Membaca sekilas atau membaca cepat adalah
kegiatan membaca dengan mengandalkan kecepatan gerak mata dalam melihat dan
memperhatikan bahan tertulis yang dibacanya dengan tujuan untuk mendapatkan
informasi secara cepat.
Metode yang digunakan dalam melatih membaca
cepat adalah :
·
Metode kosakata : metode yang berusaha untuk menambah kosakata.
·
Metode motivasi : metode yang berusaha memotivasi pembaca
(pemula) yang mengalami hambatan.
·
Metode gerak mata : metode yang mengembangkan kecepatan
membaca dengan meningkatkan kecepatan gerak mata.
c.
Membaca Dangkal (Superficial Reading)
Membaca dangkal pada hakekatnya
untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak
mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca jenis ini biasanya dilakukan
seseorang membaca demi kesenangan, membaca bacaan ringan yang mendatangkan
kesenangan, kegembiraan sebagai pengisi waktu senggang.
(II)
Membaca Intensif
Membaca Intensif atau intensive reading
adalah membaca dengan penuh penghayatan untuk menyerap apa yang seharusnya kira
kuasai. Yang termasuk dalam membaca intensif adalah :
a.
Membaca Telaah Isi :
·
Membaca jenis ini sama pentingnya dengan membaca sekilas,
maka sering kali seseorang perlu membaca dengan teliti bahan-bahan yang
disukai.
b.
Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman ( reading for
understanding) adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami tentang
standar-standar atau norma-norma kesastraan (literary standars), resensi kritis
(critical review), dan pola-ola fiksi (pattenrns of fiction).
c.
Memaca Kritis
Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang
dilakukan secara bijaksana, mendalam, evaluative, dengan tujuan untuk menemukan
keseluruhan bahan bacaan, baik makna bari-baris, makna antar baris, maupun
makna balik baris.
d.
Membaca Ide
Membaca ide adalah jenis kegiatan membaca
yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada
bacaan.
e.
Membaca Kreatif
Membaca kreatif adalah kegiatan membaca
yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi
juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan
sehari-hari.
D. Hambatan dalam Membaca
Hambatan-hambatan yang dapat mengurangi kecepatan mambaca,
baik itu membaca nyaring ataupun membaca dalam hati, meliputi :
(a) vokalisai atau berguman ketika membaca,
(b) membaca dengan menggerakan bibir tetapi tidak bersuara,
(c) kepala bergerak searah tulisan yang dibaca,
(d) subvokalisasi; suara yang biasa ikut membaca di dalam pikiran kita,
(e) jari tangan selalu menunjuk tulisa yang sedang kit abaca,
(f) gerakan mata kembali pada kata-kata sebelumnya.
(a) vokalisai atau berguman ketika membaca,
(b) membaca dengan menggerakan bibir tetapi tidak bersuara,
(c) kepala bergerak searah tulisan yang dibaca,
(d) subvokalisasi; suara yang biasa ikut membaca di dalam pikiran kita,
(e) jari tangan selalu menunjuk tulisa yang sedang kit abaca,
(f) gerakan mata kembali pada kata-kata sebelumnya.
BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penilaian deskriptif. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode survai tes. Menurut Arikunto
(dalam Saputri 2013 : 31) “Survai merupakan bagian dari studi deskriptif yang
bertujuan untuk mencari kedudukan atau status, fenomena (gejala) dan menemukan
kesamaan status dengan cara membandingkannya dengan standar yang sudah
ditentukan.”
B. Sumber Data Penelitian
1. Populasi
Populasi yang di gunakan dalam
penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Pelesiran Keca. Coblong Kota Bandung.
Sebanyak 10 orang.
2. Alur Penelitian
Langkah-langkah yang dilaksanakan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Peneliti memberi pengarahan kepada peserta didik.
b. Bahan yang akan di baca oleh peserta didik adalah 2 bahan bacaan
yang masing-masing memiliki 250 kata dan diberikan waktu selama 1 menit.
c. Sistem Penilaian ialah :
Banyak
Kata yang dibaca + Pemahaman isi bacaan x 100
% = hasil …… ( % )
250
d. Penelitian dilaksanakan dalam 2 kali, yaitu :
1.
10
Peserta didik Membaca Nyaring dengan bahan bacaan pertama.
2.
10
Peserta didik Membaca Dalam Hati dengan bahan bacaan kedua.
e. Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan instrument penelitian
yang telah dibuat.
C. Tahap Penganalisaan Data
Berikut
Tabel data hasil dari Penelitian
|
No
|
Nama
|
Model Membaca
|
|
|
Membaca
Nyaring
|
Membaca Dalam
Hati
|
||
|
1
|
Firmansyah
|
63 %
|
45 %
|
|
2
|
Yanuar R
|
70 %
|
55 %
|
|
3
|
Nazhar F
|
65 %
|
48 %
|
|
4
|
Al Rizky
|
68 %
|
30 %
|
|
5
|
Azmi R
|
58 %
|
45 %
|
|
6
|
Arkia A
|
72 %
|
70 %
|
|
7
|
Sauzan A R
|
65 %
|
72 %
|
|
8
|
Marsyanda H
|
62 %
|
55 %
|
|
9
|
Yumei A
|
65 %
|
58 %
|
|
10
|
Ghina N
|
60 %
|
48 %
|
|
Hasil
Rata-rata
|
64,
8 %
|
52,6 %
|
|
D. Menarik Kesimpulan
Setelah analisis data dilakukan, peneliti dapat menarik kesimpulan
bahwa Membaca Nyaring lebih signifikan karena peserta didik dapat lebih banyak
memahami isi dari bacaan yaitu 64,8%,
dan Membaca Dalam Hati kurang signifikan untuk dapat memahami isi dari bacaan,
yaitu 52,6 %.
Langganan:
Postingan (Atom)

















