Total Tayangan Halaman

Rabu, 07 Mei 2014

Keseimbangan Planet Bumi

Segala komposisi penyusun bumi dan juga posisinya sangatlah seimbang dan sempurna. Jika tidak, tidak akan ada kehidupan di dunia ini. Untuk lebih jelasnya perhatikanlah semua perbandingan di bawah ini yang pastinya sangat jarang kita sadari dan menunjukkan betapa Maha Dahsyatnya karya dan perhitungan Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini.

Gravitasi

http://www.klnce.edu/symposium/2009/Reflechir09/img/gravity.png

* Jika lebih kuat: atmosfer menahan terlalu banyak amonia dan methana.
* Jika lebih lemah: atmosfer planet akan terlalu banyak kehilangan air.




Jarak dengan Bintang Induk (Matahari)

http://i222.photobucket.com/albums/dd96/thunderianz/space/sun-earth-moon-600x400-mark-30.jpg

* Jika lebih jauh: planet akan terlalu dingin bagi siklus air yang stabil.
* Jika lebih dekat: planet akan terlalu panas bagi siklus air yang stabil.


Ketebalan Kerak

http://pr4s.files.wordpress.com/2007/09/struct2.jpg

* Jika lebih tebal: terlalu banyak oksigen berpindah dari atmosfer ke kerak bumi.
* Jika lebih tipis: aktivitas tektonik dan vulkanik akan terlalu besar.


Rotasi

https://hhe.wikispaces.com/file/view/Picture_45.png/63661772/Picture_45.png

* Jika lebih lama: perbedaan suhu pada siang dan malam hari terlalu besar.
* Jika lebih cepat: kecepatan angin pada atmosfer terlalu tinggi.


Interaksi Gravitasi Dengan Bulan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnaXnAyWugNeh5KcyS6UfL6OC93aiwbxjAGi2N1rAIzewBR1VIC7s1JXLA6-bsOAoz4MYq1s2WVFpp_ahVNyicKA_tAGaGJI0CCrcuzL7-ZAYPhL0GyrQteuwk5vDdLGIhBM-Z-LfpKyk/s400/ebb_tide.jpg

* Jika lebih besar: efek pasang-surut pada laut, atmosfer dan periode rotasi semakin merusak.
* Jika lebih kecil: perubahan tidak langsung pada orbit menyebabkan ketidakstabilan iklim.


Medan Magnet

http://i14.photobucket.com/albums/a338/ypratama/KMD/28_03_Earth_magnetic_field.jpg

* Jika lebih kuat: badai elektromagnetik terlalu merusak.
* Jika lebih lemah: kurang perlindungan dari radiasi yang membahayakan dari bintang.

Albedo (Perbandingan antara cahaya yang dipantulkan dengan yang diterima pada permukaan)

http://www.the-m-factory.com/portfolio/all_images/ill_maps-Albedo-Effect.jpg

* Jika lebih besar: zaman es tak terkendali akan terjadi.
* Jika lebih kecil: efek rumah kaca tak terkendali akan terjadi.


Perbandingan Oksigen dan Nitrogen

http://www.ldesign.com/Images/Essays/GlobalWarming/Part1/Atmosphere/AtmosphericContentPercent.jpg

* Jika lebih besar: fungsi hidup yang maju berjalan terlalu cepat.
* Jika lebih kecil: fungsi hidup yang maju berjalan terlalu lambat.

Kadar Karbon Dioksida dan Uap Air dalam Atmosfer

http://wavega.files.wordpress.com/2009/10/kesimpulan-laporan-penelitian-batuan-ultramafic-untuk-mengikat-karbon-dioksida-co2-di-atmosfir-dalam-bentuk-mineral-padat-2.jpg

* Jika lebih besar: efek rumah kaca tak terkendali akan terjadi.
* Jika lebih kecil: efek rumah kaca tidak memadai.

Kadar Ozon

http://www.export.gov.il/Eng/_Uploads/4076ozon.jpg

* Jika lebih besar: suhu permukaan bumi terlalu rendah.
* Jika lebih kecil: suhu permukaan bumi terlalu tinggi; terlalu banyak radiasi ultraviolet.


Aktifitas Gempa

http://questgarden.com/71/26/9/081013095448/images/earthquake1.jpg
* Jika lebih besar: terlalu banyak makhluk hidup binasa.
* Jika lebih kecil: bahan makanan di dasar laut (yang dihanyutkan aliran sungai) tidak akan didaur ulang ke daratan melalui pengangkatan tektonik.


Referensi :
http://apakabardunia.com

Sejarah Bandung Lautan Api


SUATU hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo-Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api. 

Insiden Perobekan Bendera 

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda (tentara NICA) dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia. 


Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono. 

Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan. 

Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah. 


Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan. 

Bandoeng Laoetan Api 

Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.
 

Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan rakyat untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. 

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota. Dan Bandung pun berubah menjadi lautan api. 

Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI dan rakyat tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI bersama rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia. 

Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Banyak yang bertanya-tanya darimana istilah ini berawal. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris. 

Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air” 
A.H Nasution, 1 Mei 1997
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi. 

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api. 

Ladies of Bandung

”Ladies” of Bandung adalah bangunan-bangunan rumah tinggal yang memilki nama perempuan, dan merupakan salah satu bangunan peninggalan sejarah yang ada di kota Bandung. Rumah-rumah tinggal ini dibangun sekitar tahun 1915 sampai dengan tahun 1930 oleh pemerintah Belanda.
Salah Satu Bangunan Ladies of Bandung
Siane

Awal tahun 1900, Bandung sempat dicalonkan sebagai ibukota Hindia Belanda, dengan rencana memindahkan Batavia ke Bandung. Maka langkah persiapan itu direncanakan, salah satunya dengan membangun bangunan-bangunan pemerintahan dan pemukiman dengan rencana tata ruang yang baik. Sehingga pada kurun waktu tersebut, kota Bandung mengalami pembangunan yang intensif. Pembangunan itu pun membuat Bandung menyimpan banyak karya arsitektur bergaya Indo-Eropa. Hal tersebut membuat Bandung saat itu dijuluki The Most European City in the East Indies.
Berbagai bangunan tua bukan hanya mampu menceritakan bagaimana awal kota ini dibangun. Kebanyakan peninggalan sejarah di Bandung itu berumur sekurang-kurangnya 50 tahun serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Karena bangunan-bangunan “Ladies” of Bandung ini biasanya berupa bangunan rumah tinggal dan langgam arsitekturnya sangat sederhana, maka kebanyakan orang tidak menyadari akan adanya sesuatu yang unik pada bangunan tersebut, yang tidak lain adalah nama yang terdapat pada fasad bangunan rumah tinggal, sehingga bangunan-bangunan rumah tinggal ini disebut sebagai “Ladies” of Bandung.

Sayang, koleksi berharga itu tak diimbangi dengan tingginya apresiasi masyarakat terhadap konservasi bangunan lama. Padahal bangunan lama itu dapat menunjukan keragaman budaya dan sejarah generasi masa lampau. Masalah perkotaan yang kompleks dewasa ini telah menyebabkan eksistensi sebagian besar karya arsitektur, di Bandung terancam. Seiring dengan perkembangan jaman pada umumnya, dan tentu saja perkembangan kota Bandung pada khususnya, ditambah lagi dengan kurangnya perhatian masyarakat pada bangunan-bangunan “Ladies” of Bandung, maka sedikit demi sedikit keberadaan bangunan ini mulai tersingkir. Seperti misalnya yang terjadi pada 5 bangunan rumah tinggal yang terletak di Jalan Anggrek. Ke-5 rumah tersebut seharusnya memiliki nama, tapi yang terjadi sekarang adalah fasad bangunan tersebut telah mengalami banyak perubahan, dan nama bangunannya telah hilang.

Para pemilik rumah mungkin tidak menyadari bahwa rumah milik mereka tersebut telah memasuki tahapan bangunan yang perlu dilerstarikan keberadaannya, mengingat bangunan tersebut telah berumur lebih kurang 50 tahunan bila dihitung dari tahun pembuatannya yang berkisar antara tahun 1917-an sampai dengan tahun 1930-an. Selain itu, rumah tersebut juga memiliki gaya arsitektur yang mewakili style yang pernah berkembang pada jamannya dan pernah mewarnai kekayaan gaya arsitektur yang berkembang di kota Bandung pada saat itu. Sebagian besar pemilik bangunan, biasanya tidak menyadari hal ini, bahkan tidak pernah mengetahui tentang “Ladies” of Bandung dan memahami arti nama yang tertera pada fasad bangunan rumah mereka.

Selain itu. Istilah “Ladies” of Bandung ini bagi sebagian orang, bahkan bagi para mahasiswa arsitektur pun, masih banyak yang kurang memahami. Memang bangunan-bangunan “Ladies” of Bandung ini tidak pernah sampai mendunia seperti karya-karya arsitektur lainnya. Mungkin juga, “Ladies” of Bandung ini hanya dilihat sebagai sebuah gejala arsitektur yang hanya lewat dan berkembang sesaat di kota Bandung.

Menurut Frances B. Affandy, Direktur Eksekutif Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage), bangunan “Ladies” of Bandung ini boleh dibilang telah menjadi ciri kota Bandung, karena bila dibandingkan dengan kota besar lainnya, maka di kota Bandung ini terdapat paling banyak bangunan dengan nama wanita. Kota Bandung sendiri memiliki 121 bangunan dengan penamaan yang tertera di fasadnya, dan 70 diantaranya menggunakan nama wanita.

Sesuai dengan perhatian penulis pada masalah sejarah dan pelestarian bangunan lama , maka penulis mencoba untuk membahas keberadaan bangunan “Ladies” of Bandung , sebagai bagian dari sejarah dan perkembangan gaya arsitektur yang pernah ada dan berkembang di kota Bandung pada masanya. Sedangkan pembahasannya adalah melalui pendeskripsian ciri, karakter dan kemungkinan masuknya ke kota Bandung pada periode tertentu. **


Referensi:

http://www.bandungheritage.org/

Dayak "Pemburu Kepala dari Indonesia"

[/IMG]
Potongan kepala Musuh yang di asapkan
Jauh di dalam hutan berkabut Borneo, Etnolog Inggris dengan berani memasuki dan pergi dengan parang ditangan terus bergerak melalui kabut tebal untuk memasuki daerah hutan. Parang, senjata tajam pendek yang dirancang untuk bisa ditarik dengan sangat cepat, bagian leher yang di utamakan sebagai titik serangan terbaik. Tapi saat Charles etnolog inggris yg sudah bisa membaur dan menghabiskan hidup di antara masyarakat Kalimantan, sebagai pengamat budaya pulau besar di Asia Tenggara juga bersenjata dengan senjata kolonial yang lebih halus: kamera. yang digunakan untuk mengambil banyak gambar tentang Pemburu kepala di kalimantan.

[IMG][/IMG]
Galeri dalam rumah dengan tengkorak dan Padaung senjata Dayak, yang jadi pelapis dinding
Photo circa 1900-1930

Sebenarnya, Charles Hose tidak hanya dipersenjatai dengan kamera tetapi juga dengan pena. Ditempatkan di Kalimantan sebagai jaksa selama pemerintahan Kekaisaran Residen Inggris di sana, para peneliti berani merekam semua yang dilihatnya dan menulisnya kedalam bukunya berjudul The Pagan Tribes of Borneo, yang diterbitkan pada tahun 1912, dan ini termasuk sebuah wacana tentang pengajuan: "Jelas bahwa Iban adalah salah satu suku yang menerapkan Pemburu kepala dengan kata lain, yaitu, bahwa Berburu kepala, mengejar sebagai bentuk latihan, "tulis Hose, meskipun ia kemudian mengklaim bahwa "Mereka begitu gembira khususnya para Pemburu Kepala untuk berburu kepala dan tidak ragu-ragu untuk melakukannya dengan cara yang tidak adil."

[IMG][/IMG]
prajurit longnawan dari Suku dayak pemburu kepala di kalimantan utara
Photo circa 1927

Sebelum kita tersesat dalam kebingungan tentang apa yang dilakukan dan bukan hanya merupakan sebuah olahraga berburu kepala, mari kita membuat jelas bahwa Iban adalah cabang dari Suku Dayak di Kalimantan. Sub-kelompok masyarakat adat Dayak dikenal sebagaiteman di zaman kolonial, di bawah Dinasti James Brooke (1803-1868), raja Sarawak, yang merupakan salah satu negara bagian Malaysia di Kalimantan. alKisah kekerasan dari suku Dayak di Laut Cina Selatan didokumentasikan dengan baik, karena tidak kecil untuk perang budaya mereka sangat agresif terhadap kepentingan perdagangan pendatang dari Barat pada abad ke-19 dan 20. James Brooke dan Raja Melayu tidak memberi tempat sebelum bajak laut tiba, namun, menyerang dan menghancurkan 800 kapal bajak laut. Iban juga menjadi terkenal karena memburu/memotong Kepala musuh, bahkan Mereka dicap sebagai pelopor praktek seperti ini

[IMG][/IMG]
Laki laki dari Suku dayak dengan dua kepala di tangan
Photo 1900-1940

Charles Hose mempunyai pemikiran bahwa "mungkin" Iban "mengadopsi [praktek pemotongan kepala] dari beberapa generasi yang lalu hanya ... Kayans atau meniru suku-suku lain di antara mereka yang telah ditlakukan," dan bahwa "pertumbuhan yang cepat dari praktek di antara Iban Tidak diragukan lagi sebagian besar disebabkan oleh pengaruh Melayu, yang telah diajarkan oleh orang-orang Arab dan dari suku lainnya "untuk menyampaikan atau menyalahkan awal kegiatan ini adalah demi tempat/lahan yang diperbutkan antara suku Iban di wilayah ini.banyak daerha yang sudah kelebihan penduduk sehingga memaksa mereka untkuk mengambil tanah dari suku lain dan mempertahankan tanah tersebut dengan nyawa, dan ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan Hidup.

[IMG][/IMG]
Tentara Suku Dayak di Kalimantan tengah yang bersiap untuk berperang
Photo 1894

Berburu Kepala juga jelas merupakan bagian penting dari budaya Dayak. balas dendam , berburu kepala untuk ritual tradisi lama terus hidup sampai berhenti dan kemudian secara bertahap bercampur dengan intervensi luar - yaitu, pemerintahan raja Brooke di Sarawak dan Belanda di Kalimantan dalam 100 tahun sebelum Perang Dunia II. Awal, Pemerintah Brooke melaporkan, menggambarkan perang dari orang-orang Iban dan Kenyah - kelompok lain dari suku itu kepada siapa Berburu Kepala adalah sebuah budaya yang penting.

[IMG][/IMG]
Suku Dayak Mengcukur Rambut di Sesuaikan dengan Kedudukannya
Photo circa 1920


Namun demikian, dengan berburu kepala itu seiring dengan berjalannya waktu,Masih cukup banyak masalah bagi etnolog Inggris Charles Hose untuk mengabadikan suku ini kedalam sebuah Buku untuk sebagai subjek. Hose bahkan melangkah lebih jauh dengan mencari penjelasan atas kebiasaan dan keyakinan yang mungkin sesuatu yang mistis yang mendukung keganasan yang mengerikan ini, dia menawarkan dua teori yang mungkin: "Bahwa praktek dari memotong kepala musuh muncul dan mengambil sebagian dari kepala itu untuk dijadikan hiasan rambut,perisai dan gagang pedang, "dan "Mengambil kepala musuh adalah sebagai tradisi untuk menghormati/melayani roh leluhur agar arwahnya bisa tenang sehingga satu saat sang pemotong kepala mati dia akan disambut leluhur"

[IMG][/IMG]
Dukun Suku Dayak di kalimantan Barat

keraguan yang ditimbulkan membuat Hose meminta bantuan ulama kontemporer dan terdapat pandangan yang sedikit berbeda pada apa yang dimaksudkan dengan Suku Pemburu kepala. Dalam keyakinan politeisme dan animisme kompleks orang Dayak, memenggal kepala musuh seseorang dianggap sebagai cara yang baik untuk membunuh roh orang yang telah dibunuh. Makna spiritual upacara juga terletak pada keyakinan bahwa memimpin orang mati. Kepala ditampilkan dalam sebuah upacara pemakaman tradisional, di mana tulang-tulang kerabat digali dari bumi dan dibersihkan sebelum dipasang di pemakaman yang aman. dan kepalanya diambil tentu berharga.

[IMG][/IMG]
Pemimpin Suku Dayak Lengkap dengan Baju Kebesaran
Photo 1900-1940

Mereka adealah salah satu suku terbelakangdan biasa hidup di alam liar jauh dari standar beradab seperti dunia Barat. Selama Perang Dunia II, pasukan Sekutu telah dikenal untuk mengumpulkan tengkorak Jepang mati sebagai piala. Pada tahun 1944 Majalah Life menerbitkan foto seorang wanita muda berpose dengan tengkorak yang dikirim ke Angkatan Laut ditandatangani dengan pacarnya, suatu peristiwa yang menyebabkan kemarahan publik. Di bawah arahan Sekutu, orang-orang Dayak sendiri kembali melawan Jepang dengan melakukan perang gerilya setelah merasakan perlakuan buruk oleh mereka/Jepang. dan tidak kura dari sekitar 1.500 tentara Jepang yang tewas atau tertangkap.

8 Kota Ternyaman di Indonesia

8. Makassar


Kota Makassar adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. di pesisir barat daya pulau Sulawesi, menghadap Selat Makassar. Makassar dikenal mempunyai Pantai Losari yang indah. Makassar berbatasan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan. Kota ini termasuk kota kosmopolis, banyak suku bangsa tinggal di sini. Di kota ini ada suku Makassar,Bugis,Toraja dan Mandar.Di kota ini ada pula komunitas Tionghoa yang cukup besar. Makanan khas Makassar adalah Coto Makassar, Roti Maros, Kue Tori', Palabutung,Pisang Ijo, Sop Saudara, dan Sop Konro. Makassar memiliki wilayah seluas 128,18 km² dan penduduk sebesar kurang lebih 1,25 juta jiwa.

7. Bali


Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata.

6. Medan


Kota Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Orangutan di Bukit Lawang, Danau Toba, serta Pantai Cermin, yang dilengkapi dengan Waterboom Theme Park.

5. Surabaya



Kota Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa, Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah.Kata Surabaya konon berasal dari cerita mitos pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya (buaya).

4. Bogor


Kota Bogor adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 68 kelurahan. Pada masa kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg berarti "tanpa kecemasan" atau "aman tenteram".
Hari jadi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor diperingati setiap tanggal 3 Juni, karena tanggal 3 Juni 1482 merupakan hari penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Kerajaan Pajajaran. Bogor (berarti "enau") telah lama dikenal dijadikan pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional. Di sinilah berbagai lembaga dan balai-balai penelitian pertanian dan biologi berdiri sejak abad ke-19. Institut Pertanian Bogor, berdiri sejak awal abad ke-20.

3. Semarang 



Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya. Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat.

2. Bandung


Kota Bandung adalah ibu kota provinsi Jawa Barat. Kota ini pada zaman dahulu dikenal sebagai Parijs van Java (bahasa Belanda) atau “Paris dari Jawa”. Karena terletak di dataran tinggi, Bandung dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk. Hal ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata. Sedangkan keberadaan perguruan tinggi negeri dan banyak perguruan tinggi swasta di Bandung membuat kota ini dikenal sebagai salah satu kota pelajar di Indonesia.

1. Yogyakarta


Kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa revolusi. Selain itu kota ini adalah ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Pangeran Pakualam. Makanan khas kota ini adalah gudeg. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, karena hampir 20% penduduk produktifnya adalah pelajar dan terdapat 137 perguruan tinggi. Jogja merupakan kota yang diwarnai dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Perguruan tinggi yang dimiliki oleh pemerintah adalah Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan Mataram antara 1575-1640. Sampai sekarang Kraton (Istana) masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya. Selain warisan budaya, Yogyakarta memiliki panorama alam yang indah. Hamparan sawah nan hijau menyelimuti daerah pinggiran dengan Gunung Merapi tampak sebagai latar belakangnya. Pantai-pantai yang masih alami dengan mudah ditemukan di sebelah selatan Jogja. Masyarakat di sini hidup dalam damai dan memiliki keramahan yang khas. Atmosfir seni begitu terasa di Yogyakarta. Malioboro, yang merupakan urat nadi Yogyakarta, dibanjiri barang kerajinan dari segenap penjuru. Musisi jalanan pun selalu siap menghibur pengunjung warung-warung lesehan.

Gambar Mercusuar Keren

Jangan Sebut Anak Anda “Nakal”

“Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.


Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal, padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal. Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan berpengaruh pada dirinya.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Hindari Sebutan Nakal
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi, jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang tua atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang. Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melaku­kan kesalahan karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan. Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah dalam mengambil langkah.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta.
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/09/24/23024/jangan-sebut-anak-anda-nakal/#ixzz3111ix3Lf 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook